NUTRISI DALAM AGAR-AGAR www.traveloairport.com

ciproxin sciroppo

ciproxin 500 posologia click here
Agar atau Jelly merupakan cemilan yang baik saat berdiet. Kalori keduanya beda tipis karena bahan dasar pembuatannya sama yaitu berasal dari ganggang atau rumput laut. Gula yang terkandung dalam jelly termasuk dalam serat makanan, sama dengan pada agar-agar yang mengandung serat makanan. Fakta nutrisi yang ditulis di kemasan adalah benar, sesuai dengan kandungan di dalamnya. 

Agar-agar kaya akan serat dan bebas kalori karena senyawa hidrokoloid di dalamnya yang menyebabkan tak perlu lagi minum air yang banyak seperti makan serat dari buah-buahan. Saat mencapai perut, agar-agar dapat menyerap lemak jenuh yang dibuang bersama ampas makanan sehingga dapat memperlancar pencernaan dan mencegah sembelit. Selain itu, agar-agar memiliki kandungan kalsium dan fosfor yang baik untuk pembentukan dan kepadatan tulang. Jelly adalah makanan tinggi serat juga. 

Bahan utama pembuatannya ialah pectin (serat) yang diperoleh dari bermacam-macam buah, gula dan aroma perasa. Kandungan serat yang tinggi ini menyebabkan perut terasa kenyang dan serat dapat menekan kolesterol karena dalam saluran cerna, serat akan mengikat asam empedu yang merupakan produk akhir kolesterol dan dikeluarkan bersama tinja. Sebaiknya anda berkonsultasi dengan dokter spesialis gizi klinik untuk memperoleh informasi lebih lanjut mengenai makanan yang baik untuk menurunkan berat badan. Beberapa tips yang dapat Anda lakukan:

-mengonsumsi makanan porsi kecil namun sering
-mengonsumsi makanan yang bergizi seimbang terutama sayur dan buah-buahan
-Hindari mengonsumsi makan malam di atas jam 7 malam
-berolahraga secara teratur minimal 3x dalam seminggu
-beristirahat secara teratur

Jangan lupa kunjungi myagarpac.com

Suatu siang, tiga tahun silam. Saya datang ke sekretariat IKAPI Yogyakarta, untuk kumpulan rutin setiap Rabu. Sampai di sana, tumben-tumben saya lihat ada Mas Indra Ismawan, bos grup penerbit Media Pressindo.

“Halo Mas, lama nggak ketemu, kok tambah gemuk aja? Hehehe,” sapa saya. Memang cukup lama saya nggak jumpa miliuner rendah hati yang satu itu. Dan pas kali itu ketemu, badannya beneran kelihatan subur.

“Iyo, memang gemuk nih. Soale habis berhenti merokok,” jawab Mas Indra.

Saya njenggelek. Waini, topik menarik ini. Saya langsung mupeng pingin dengar ceritanya. Maka saya pun menginterogasi Mas Indra.

“Aku setop merokok lumayan lama, tiga bulan. Berat badan langsung naik 10 kilo,” kisahnya. Saya mulai nggelar tikar dan ngaduk kopi, menyimak. Segeralah terbangun hipotesis di kepala: berhenti merokok itu benar-benar menyehatkan.

“Tapi,” Mas Indra melanjutkan, “akhirnya aku putuskan merokok lagi.”

“Lho!! Kok??” atas nama pencarian kebenaran, saya nggak boleh begitu saja setuju keputusan politik Si Bos.

“Begini, simpel saja,” jawabnya. “Kalau aku lanjutin setop merokoknya, pasti aku tambah gemuk. Sementara kita lihat, mana ada orang obesitas bertahan sampe tua? Kalau ketemu perokok berat hidup sampe 90 atau 100 tahun sih sering. Tapi lihat orang obesitas bertahan hidup sampe umur segitu? Pernah, ‘po?”

Saya tertegun. Paten nih orang. Cara berpikirnya jauh dari linier. Dia sama sekali tidak membaca persoalan secara serta-merta, lewat permukaan saja, semisal: “Hmm.. karena berhenti merokok aku jadi gemuk. Gemuk berarti sehat. Jadi kalau mau sehat, berhentilah merokok.” Tidak, tidak. Manusia di depan saya itu punya pikiran yang melompat jauh ke luar kotak. Untung sampeyan nggak fesbukan, Mas, batin saya. Coba main fesbuk, pasti sudah dibuli sama kimcil-kimcil. Hahaha.

***

Suatu malam saya sowan ke Dipowinatan, kediaman penyair gaek Iman Budhi Santosa. Sambil mengisap 76-nya, beliau menelanjangi makna slamet dalam masyarakat Jawa. Kata Mas Iman, slamet dalam kosmologi Jawa berbeda jauh dengan selamat dalam pemahaman standar perspektif dunia modern.

“Dalam pemikiran modern, yang disebut keselamatan melulu terkait fisik. Orang naik kendaraan dan sampai tujuan tanpa terkena kecelakaan, berarti selamat. Orang yang fisiknya terlindungi, aman dan nyaman, disebut selamat. Sebaliknya, orang yang terkena gangguan fisik, atau bahkan mati, otomatis dikatakan tidak selamat. Cuma begitu itu. Jadi orang tidak paham dengan kematian Mbah Marijan yang mengawal Gunung Merapi, misalnya. Apa benar Mbah Marijan tidak selamat? Dalam kacamata orang Jawa, Mbah Marijan itu slamet. Slamet. Orang gagal mengerti, karena apa yang ada dalam sudut pandang mereka tak lebih dari perkara jasmani belaka.”

Mas Iman melanjutkan dengan konsep kesehatan modern. “Urusan Departemen Kesehatan itu kan cuma kesehatan jasmani saja to,” sambungnya. “Mana pernah mereka menempatkan sektor kesehatan jiwa dalam proporsi penting? Padahal persoalan masyarakat kita kebanyakan akibat problem ketidaksehatan jiwa. Penyakit fisik memang ada. Tapi sebenarnya jauh lebih banyak penyakit jiwa. Anehnya, segi ini nyaris dianggap tidak ada oleh Departemen Kesehatan. Jadi ya nggak heran, ketika para ahli

kesehatan menilai masalah rokok, yang dibahas cuma sudut pandang kesehatan fisik..”

***

Mengenang obrolan bersama Mas Indra Ismawan dan Mas Iman Budhi Santosa, saya jadi merenung-renungkan lagi arti “out of the box”. Tak bisa disangkal, poin-poin pikiran kedua orang perokok berat itu jauh dari standar. Ada batas-batas pagar yang mereka lompati, di saat semua orang nyaman-damai dan tak berani membayangkan apa-apa yang ada nun di luar pagar. Saya jadi ingat dialog lama yang terjadi antara Syekh Abu Hayyun dan seorang mbak-mbak unyu aktipis antitembakau.

“Iya, rokok memang berbahaya. Saya setuju sekali sama sampeyan, Mbak,” kata Syekh Abu Hayyun mantap. Wajah aktipis LSM antitembakau yang bertamu siang itu pun langsung berbinar.

“Begini,” lanjut Syekh. “Merokok itu nggak bisa dilakukan sambil terburu-buru. Anda bisa makan, minum, mandi, bepergian, bahkan bekerja, dengan cepat dan tergesa. Tapi tidak untuk merokok. Merokok mesti dilakukan seperti.. mm.. gerakan-gerakan salat. Harus tuma’ninah istilahnya, Mbak. Sedot, tenang, pengendapan sesaat, baru nyebul. Isep lagi, tenang dan pengendapan lagi, sebul lagi. Begitu terus-menerus. Lihat, ngudud sama sekali bukan aktivitas yang cocok untuk orang yang gegabah dan grusa-grusu…”

“Lho, maaf, katanya bahaya, Syekh? Kok malah nggak bahas bahayanya?” Si aktipis kimcil tampak nggak sabar.

“Sebentar..,” sambil tersenyum bijak Syekh memberi kode tangan, agar si aktipis diam dulu. “Untuk menghabiskan satu batang rokok, rata-rata dibutuhkan 20-25 kali hisapan. Kalau seorang perokok ngudud 10 batang saja setiap hari, artinya minimal ada 200 kali saat jeda tuma’ninah per harinya. Dua ratus kali setiap hari, Mbak! Nah, bayangkan saja jika ia menempuh hidup seperti itu belasan atau bahkan puluhan tahun. Apakah sampeyan yakin yang demikian itu tidak turut membentuk bangunan bawah sadar dan karakter pribadinya?”

“Bahayanya, Syekh. Pliss, bahayanya…”

“Jadi, ya nggak usah gampang heran kalau banyak pemikir muncul dari kalangan perokok. Sebab perokok itu bukan semacam speedboat yang melesat cepat di permukaan, melainkan lebih dekat dengan sifat kapal selam. Ia bergerak pelan namun pasti di kedalaman. Makhluk-makhluk kapal selam itu terbiasa tenang, jernih mencermati setiap hal, sekaligus punya daya imajinasi tinggi. Maka kita tahu ada Einstein, misalnya. Pastilah ia menemukan Teori Relativitas, serta teori bahwa semesta berbentuk melengkung, saat ia leyeh-leyeh sambil kebal-kebul dengan pipa cangklongnya. Ada juga Sartre, Albert Camus, Derrida, Sigmund Freud, yang semua-muanya menempa ngelmu tuma’ninah-nya lewat asap tembakau. Contoh lain? Ada Sukarno, Che Guevara, Winston Churcill, hingga John Kennedy. Atau para sastrawan-pemikir, mulai Rudyard Kipling, Hemingway, Mark Twain, Pablo Neruda, Chairil Anwar, Pramoedya Ananta Toer, yang kesemua mereka pun menjalani metode yang sama. Jadi bisa kita simpulkan bahwa..”

“Stop! Stop!! Please, Syekh. Please! I said: ba-ha-ya! Please explain the ba-ha-ya!!”

“Hehe, iya, iya, Mbak. Maaf. Saya tegaskan bahwa rokok memang berbahaya.” Syekh ber-tuma’ninah sesaat. “Sebab.. yang paling berbahaya dari seorang manusia bukanlah paru-paru atau jantungnya, melainkan pikiran-pikirannya.”

acquistare cialis in farmacia

generico cialis prezzo sporturfintl.com
Memiliki tubuh yang ideal tentu menjadi idaman setiap orang. Terlebih bagi professional muda seperti Anda, penampilan yang menarik dan smart adalah modal bagi kelancaran berkomunikasi. Untuk itulah demi mendapatkan tubuh yang langsing orang rela melakukan banyak hal mulai berolahraga berat, menjalankan program diet yang ketat, sedot lemak, hingga operasi. Padahal, Tubuh langsing belum tentu sehat. Untuk itu, pilihlah program diet yang sehat. Jangan menyiksa diri, apalagi memperkosa tubuh dengan operasi sedot lemak dan semacamnya.

Selain berolahraga yang teratur, walau olahraga ringan, lanjutkan dengan membiasakan pola makan yang sehat. Pola makan sehat itu tidak harus mahal, lho. Pola makan yang sehat itu intinya ada dua, menunya sehat dan jumlahnya tidak berlebihan. Nah, orang biasanya sering makan berlebihan sehingga banyak terjadi penumpukan zat makanan yang tidak terserap kemudian menjadi racun. Akan lebih parah jika kebanyakan makanan yang kita makan adalah makanan yang tidak sehat. Mau jadi apa organ-organ tubuh kita nanti.

Lapar itu manusiawi. Tapi saat kebutuhan tubuh akan zat makanan sudah lebih dari cukup, tapi kita terus pengen makan atau ngemil saja, itu yang masalah. Maka dari itu, dalam program diet sehat, kerap kali agar-agar menjadi pilihan yang baik. Karena agar-agar atau jelly adalah makanan yang rendah kalori, namun kaya serat. Dampaknya bagus bagi kesehatan.

Agar-agar dibuat dari rumput laut.Konon, agar-agar dikenal sebagai makanan dalam masyarakat China sekitar abad 16. Di negri Tirai Bambu tersebut, agar-agar dikenal sebagai obat anti-radang. Setelah dikenal dunia luas, agar-agar kemudian diproduksi massal oleh industri. Jepang, Amerika dan Malaka dikenal sebagai produsen agar-agar terbesar di dunia. Tak aneh jika sumber makanan dari rumput laut ini cukup akrab dan ada di sekeliling kita setiap hari.

Bentuknya beragam, ada yang berupa serbuk, batangan, maupun bentuk kertas. Tapi yang lebih sering kita jumpai adalah yang bentuk serbuk. Disajikan dengan cara melarutkan serbuk agar-agar ke dalam air panas/mendidih, lalu didinginkan menjadi gel kenyal tapi padat.

Agar-agar biasanya dipakai untuk aneka makanan camilan atau pencuci mulut, campuran jelly, pudding dan sebagainya. Agar-agar disukai kebanyakan anak-anak. Mungkin karena disajikan dalam bentuk, ukuran dan warna yang susai dengan selera. Namun hati-hatilah! Pastikan agar-agar yang dimakan anak-anak berasal dari rumput laut asli, pewarna alami, dan tidak mengandung pemanis buatan. Bikinkan agar-agar sendiri untuk anak anda, daripada mereka harus beli di jalanan. Jangan lupa kunjungi myagarpac.com



Wikipedia SiteWide Iklan Baris
wisata abeliva furniture